Kamis, 29 November 2012

JURNAL III (BARU)

Tema : Penelitian Tentang Objek Wisata Alam Hutan di Curug Nangka, Bogor, Jawa Barat. Pengarang : Nurdianti Rahayu. Tahun: 2006. Judul : ANALISIS PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP WANA WISATA CURUG NANGKA KPH BOGOR PERUM PERHUTANI UNIT III JAWA BARAT DAN BANTEN. Penerbit : Institut Pertanian Bogor
Latar Belakang :
Salah satu sektor pariwisata yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan adalah wisata alam hutan. Wisata alam hutan atau wana wisata diartikan sebagai hutan yang mencakup bagian daratan maupun lautan terutama dapat dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam (Atmajaya, 2002). Pengelolaan objek wisata alam hutan ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk memanfaatkan fungsi hutan secara optimal, serba guna dan lestari dengan tetap mempertahankan aspek konsevasi, keserasian dan keseimbangan lingkungan serta tidak merubah bentuk aslinya (Perum Perhutani, KPH Bogor).
Kabupaten Bogor merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Provinsi Jawa Barat yang memiliki beberapa lokasi yang dijadikan sebagai objek wisata berupa wisata alam hutan atau wana wisata. Terdapat lima lokasi wana wisata (WW) di Kabupaten Bogor yang pengelolaannya berada di bawah Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten. Wana wisata tersebut diantaranya Wana Wisata Curug Cilember, Wana Wisata Curug, Nangka (WWCN), Wana Wisata Bumi Perkemahan Sukamantri, Wana Wisata Bumi Perkemahan Gunung Bunder, dan Wana Wisata Penangkaran Rusa (Perum perhutani, KPH Bogor). Kelima lokasi tersebut merupakan objek wisata yang memiliki daya tarik dan banyak diminati oleh pengunjung untuk menikmati keindahan alam yang ada. Oleh karena itu penelitian perilaku konsumen khususnya mengenai proses pengambilan keputusan serta preferensinya perlu dilakukan untuk mendukung efisiensi pemasaran suatu produk, dalam hal ini adalah pemasaran produk jasa wisata.
Fenomena :
Keindahan objek wisata alam hutan banyak digemari para wisatawan baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal, keindahan alam yang ditawarkan wisata hutan ini mampu membuat para wisatawan menyegarkan fikiran, salah satu wisata hutan adalah wana wisata curug nangka yang terletak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Riset Penelitian :
Motivasi Penelitian :
Menjadikan wisata hutan menjadi salah satu tujuan utama berekreasi, yaitu dapat dilakukan dengan cara :
1.      Mempermudah akses menuju objek wisata curug nangka
2.      Melakukan promosi, melalui brosur, iklan, media massa.
3.      Meningkatkan pelayanan wisata
4.      Memperlengkap fasilitas-fasilitas pendukung di sekitar objek wisata
5.      Meningkatkan keamanan serta menjaga kebersihan.
6.      Melakukan pengembangan objek wisata
Masalah :
1.      Bagaimana karakteristik konsumen yang mengunjungi WWCN ?
2.      Bagaimana proses pengambilan keputusan pembelian terhadap jasa WWCN ?
3.       Bagaimana preferensi konsumen terhadap atribut WWCN ?
4.      Variabel-variabel apa saja yang mempengaruhi tingkat kepuasan?
5.      Upaya-upaya apakah yang sebaiknya dilakukan oleh pengelola WWCN untuk meningkatkan pelayanan dan pengembangan objek wisata yang dimilikinya?
Tujuan
  1. Mengetahui karakteristik konsumen yang mengunjungi WWCN.
  2. Menganalisis proses pengambilan keputusan pembelian terhadap jasa WWCN.
  3.  Menganalisis preferensi konsumen terhadap atribut WWCN.
  4. Merumuskan variabel-variabel apa saja yang mempengaruhi tingkat kepuasan.
  5. Merumuskan upaya-upaya apa yang sebaiknya dilakukan oleh pengelola WWCN untuk meningkatkan pelayanan dan pengembangan objek wisata yang dimilikinya.
Metodologi Penelitian
Data dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan (observasi), hasil penyebaran kuesioner kepada responden/pengunjung dan wawancara kepada pengunjung, manajemen perusahaan maupun masyarakat serta tokoh masyarakat setempat. Observasi merupakan pengumpulan data primer dengan mengamati langsung perilaku dan kegiatan konsumen/pengunjung selama berkunjung ke lokasi WWCN. Kuesioner yang diberikan kepada pengunjung dapat berupa pertanyaan terbuka maupun pertanyaan tertutup. Pertanyaan terbuka berupa pertanyaan yang diberikan dengan memberikan kebebasan jawaban dari responden, sedangkan pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang telah disediakan alternatif jawabannya. Wawancara dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada pihak pengelola WWCN dan masyarakat serta tokoh
masyarakat setempat. Untuk data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari studi kepustakaan.
Metode ini dilakukan sebagai langkah awal untuk mengetahui kondisi umum lokasi penelitian. Studi kepustakaan dilakukan dengan caramengumpulkan, mempelajari, dan menelaah buku-buku, brosur-brosur, dokumen-dokumen yang terkait dengan tujuan penelitian. Selain itu, data sekunder pada penelitian ini diperoleh internet serta kantor-kantor yang berhubungan dengan penelitian, seperti Perum Perhutani/ Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bogor serta dari hasil penelitian yang relevan dengan topik penelitian.
Sampel dan Populasi
Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Dalam metode purposive sampling sampel yang akan dipilih didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu. Dalam penelitian ini sampel yang dipilih didasarkan pada kesediaaan responden/pengunjung untuk mengisi kuesioner serta berdasarkan pada kemampuan responden tersebut untuk menjawab pertanyaan pada kuesioner.
Jumlah sampel yang dibutuhkan dihitung berdasarkan aturan umum dalam analisis faktor yaitu jumlah observasi empat sampai lima kali jumlah variabel (Wibisono, 2000). Variabel atau atribut yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 21 buah sehingga jumlah contoh ideal yang  diperlukan sebanyak 105 (5x 21 = 105). Jumlah riil dari sampel dibulatkan menjadi 110 responden.
Metode Analisis
Dalam penelitian ini, analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui karakteristik umum dan proses pengambilan keputusan konsumen untuk berkunjung ke WWCN. Karakteristik dan proses pengambilan keputusan konsumen tersebut diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner yang berkunjung ke WWCN yang ditabulasikan dalam kerangka tabel yang telah dipersiapkan. Pada analisis ini jawaban yang sama dikelompokkan dan dipresentasikan.
Sumber :
·         Kesatuan Pemangkuan Hutan Bogor,
·         Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bogor

JURNAL II (BARU)


1.      Tema : Kepuasan Konsumen Pada Objek Wisata Desa Cangkuang Garut, Jawa Barat. Pengarang : Deden Wildan Ihshani, Tahun : 2005, Judul : ANALISIS KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP ATRIBUT WISATA CANGKUANG GARUT, JAWA BARAT, Penerbit : Institut Teknologi Bandung.
Latar Belakang :
Propinsi Jawa Barat sebagai Propinsi yang memiliki potensi wisata yang diharapkan dengan pengembangannya dapat berperan menjadi penggerak perekonomian dalam pengembangan Propinsi Jawa Barat khususnya dan Indonesia umumnya. Upaya pengembangan objek wisata dilakukan dengan pengembangan objek yang ada melalui peningkatan daya tarik wisata dan sarana prasarana pendukungnya, serta dengan penggalian objek dan daya tarik potensial.
Kabupaten Garut sebagai salah satu tujuan wisata di Propinsi Jawa Barat memiliki potensi alam dan budaya yang cukup memadai untuk dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisatawan. Pengembangan sektor pariwisata juga merupakan salah satu upaya untuk menggali dan meningkatkan pendapatan asli daerah Kabupaten Garut.
Kabupaten Garut memiliki potensi wisata yang sangat beragam seperti Candi Cangkuang yang memiliki panorama alam yang masih asri, dengan adanya Kampung Pulo yang merupakan tujuan dari wisata budaya serta Candi Cangkuang yang memiliki nilai sejarah bagi daerah Garut, Cipanas dengan Pemandian air panas alam, Situ Bagendit, Kawah Kamojang, Gunung Papandayan, dan banyak lagi yang lainnya. Secara umum, daya tarik wisata di Kabupaten Garut dapat diarahkan menjadi tiga yaitu wisata alam, wisata budaya dan wisata minat khusus (ilmu pendidikan).
Fenomena :
Keindahan pariwisata di kota Garut selama ini masih belum menjadi pilihan utama konsumen untuk berwisata, banyak ragam objek wisata di kota Garut salah satunya adalah Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Pada saat konsumen mengunjungi objek wisata tertentu mereka memiliki preferensi sendiri yang berbeda-beda pada objek wisata tersebut. Eksistensi suatu objek wisata sangat tergantung kepada pengunjung. Pengelola objek wisata harus melihat pengunjung sebagai faktor yang menentukan dan menjadi prioritas utama. Mengetahui preferensi konsumen jasa wisata adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas dan memberikan pelayanan yang baik.
Riset Penelitian :

Motivasi Penelitian :
Menjadikan kota Garut menjadi tujuan utama wisatawan dalam berlibur, dan dapat dilakukan dengan :
a.       Mengadakan promosi baik di media iklan, media cetak, dsb.
b.      Meningkatkan keamanan serta menjaga kebersihan obyek wisata.
c.       Meningkatkan pelayanan wisata.
d.      Memperlengkap fasilitas-fasilitas pendukung.
e.       Akses yang mudah dicapai
Rumusan Masalah :
1.      Bagaimanakah proses pengambilan keputusan pembelian terhadap jasaObjek Wisata Cangkuang Garut ?
2.      Bagaimana kepuasan konsumen terhadap atribut wisata Cangkuang ?
3.      Bagaimanakah kebijakan yang dapat dilakukan dalam meningkatkan pelayan dan pengembangan objek wisata Cangkuang Garut ?
Tujuan Penelitian :
1.      Menganalisis perilaku dan proses keputusan konsumen dalam kunjungan wisata Cangkuang.
2.      Menganalisis kepuasan konsumen terhadap atribut Objek Wisata Cangkuang Garut.
3.      Rekomendasi alternatif kebijakan dalam meningkatkan pelayanan dan pengembangan objek wisata Cangkuang Garut.
Metodologi Penelitian :
Data dan Sumber Data
Metode yang digunakan adalah metode survey. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengambilan sampel ini dilakukan secara sengaja ( Purposive )dengan pertimbangan bahwa Objek Wisata tersebut merupakan tempat wisata yang bernuansa alam dan memiliki nilai budaya. Penelitian lapang dilaksanakan pada bulan Januari sampai Februari 2005.Untuk melakukan pengolahan data dilakukan pengambilan sampel sebanyak 100 konsumen. Dalam penelitian ini yang dijadikan konsumen adalah para pengunjung Objek Wisata Cangkuang dan wawancara langsung dengan pihak pengelola Objek Wisata Cangkuang Garut.
Data Sampel:
Untuk melakukan pengolahan data dilakukan pengambilan sampel sebanyak 100 konsumen. Dalam penelitian ini yang dijadikan konsumen adalah para pengunjung Objek Wisata Cangkuang dan wawancara langsung dengan pihak pengelola Objek Wisata Cangkuang Garut.
Metode analisis:
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif, yaitu data disusun dalam bentuk tabulasi dan diuraikan secara deskriptif. Analisis yang dilakukan dengan menggunakan Importance Performance Analysis dan Indeks Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction Index). Data primer yang telah diperoleh melalui penyebaran quisioner dan wawancara yang telah dipersiapkan, kemudian dianalisis untuk melihat karakteristik pengunjung dan setelah itu dilihat pula perilaku dan persepsi pengunjung. Data sekunder yang diperoleh dari data yang terdapat dalam dokumen–dokumen yang dimiliki oleh dinas pariwisata Kabupaten Garut, penelitian terdahulu, literatur, data dari BPS, media massa, internet, maupun sumber lainnya yang relevan dengan penelitian ini.
Metode Penelitian :
Berdasarkan data dari Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut jumlah Wisatawan Mancanegara tahun 1999 – 2004 berjumlah 18.311 orang, sedangkan Wisatawan Nusantara tahun 1999 – 2004 berjumlah 232.269 orang dengan rata-rata Wisatawan dalam maupun luar negeri yang berkunj ung ke obyek wisata Cangkuang berjumlah 41.763 orang per tahun.
Sumber :

JURNAL I (BARU)


1.      Tema : Objek Wisata Agro di Wisata  Kampung  Cendawasari, Bogor, Jawa Barat, Pengarang : Utami Rakhmawati, Tahun : 2009, Judul ANALISIS PROSES KEPUTUSAN KONSUMEN DAN PERSEPSI CALON KONSUMEN TERHADAP WISATA KAMPUNG CENDAWASARI (Studi Kasus SD, SMP, SMA di Kota Bogor), Institut Pertanian Bogor .

Latar Belakang
Daerah Bogor yang dikelilingi oleh pegunungan dapat menambah daya tarik wisatawan karena kecenderungan wisatawan yang lebih ingin menikmati suasana kembali ke alam atau back to nature karena dianggap lebih dapat menyegarkan pikiran setelah kesibukan dan aktivitas yang padat.

Salah satu kegiatan pariwisata yang marak akhir-akhir ini adalah obyek wisata yang menyajikan pemandangan alam yang indah dan kegiatan-kegiatan wisata yang menyatu dengan alam. Obyek wisata yang menyajikan suasana alam pedesaan dapat menjadi salah satu alternatif kunjungan wisata bagi wisatawan. Salah satu obyek wisata yang menyajikan suasana pedesaan adalah obyek wisata agro yang mulai menjadi pesaing bagi obyek wisata lainnya. Kecenderungan pemenuhan kebutuhan dalam bentuk menikmati obyek-obyek spesifik seperti udara yang segar, pemandangan yang indah, pengolahan produk secara tradisional, maupun produk-produk pertanian modern dan spesifik menunjukkan peningkatan yang pesat.

Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi yang cukup besar dalam mengembangkan wisata alam ini. Agropolitan dapat dijadikan sebagai sarana kegiatan pariwisata dengan mendirikan agrowisata atau wisata agro, seperti yang terdapat di agropolitan Cendawasari yaitu Wisata Kampung Cendawasari.

Fenomena :
Kota Bogor dipenuhi dengan banyak objek wisata.Wisata Agro mulai diminati banyak wisatawan, salah satu wisata agro yang ada di kabupaten Bogor adalah Wisata Kampung Cendawasari,Bogor,Jawa Barat. Karena wisata kampung dapat bermanfaat untuk edukasi selain berekreasi.

Riset Penelitian :
Salah satu kegiatan pariwisata yang marak akhir-akhir ini adalah obyek wisata yang menyajikan pemandangan alam yang indah dan kegiatan-kegiatan wisata yang menyatu dengan alam. Obyek wisata yang menyajikan suasana alam pedesaan dapat menjadi salah satu alternatif kunjungan wisata bagi wisatawan. Salah satu obyek wisata yang menyajikan suasana pedesaan adalah obyek wisata agro yang mulai menjadi pesaing bagi obyek wisata lainnya. Kecenderungan pemenuhan kebutuhan dalam bentuk menikmati obyek-obyek spesifik seperti udara yang segar, pemandangan yang indah, pengolahan produk secara tradisional, maupun produk-produk pertanian modern dan spesifik menunjukkan peningkatan yang pesat. Kecenderungan ini merupakan signal tingginya permintaan akan wisata agro.

Motivasi Penulisan :
Mengembangkan objek wisata berbasis wisata agro yang dapat menjadi wisata bermanfaat bagi wisatawan, serta dapat dilakukan dengan cara :
1.      Membuat serta meningkatkan promosi
2.      Meningkatkan jasa pelayanan wisata
3.      Menjaga kebersihan dan meningkatkan kemanan
4.      Meningkatkan perkembangan obyek wisata

Masalah :
  1. Bagaimanakah karakteristik calon konsumen Wisata Kampung Cendawasari?
  2. Bagaimanakah proses pengambilan keputusan pembelian jasa Wisata Kampung Cendawasari?
  3. Apakah variabel-variabel yang mempengaruhi persepsi konsumen dalam keputusan pembelian jasa Wisata Kampung?
  4. Apakah upaya-upaya yang sebaiknya dilakukan oleh pengelola Wisata Kampung Cendawasari untuk meningkatkan pelayanan dan pengembangan obyek wisata yang dimilikinya?

Tujuan :
  1. Mengidentifikasi karakteristik calon konsumen Wisata Kampung Cendawasari.
  2. Menganalisis proses pengambilan keputusan pembelian jasa Wisata Kampung Cendawasari.
  3. Mengidentifikasi atribut-atribut yang mempengaruhi persepsi calon konsumen dalam keputusan pembelian jasa Wisata Kampung Cendawasari.
  4. Merumuskan upaya-upaya yang sebaiknya dilakukan oleh pengelola Wisata Kampung Cendawasari untuk meningkatkan pelayanan dan pengembangan obyek wisata yang dimilikinya.

Metodologi Penelitian :

Data dan Sumber Data

Lokasi penelitian diadakan di di daerah bogor, dengan memberikan kuesioner kepada kepala sekolah sebagai wakil dari sekolah-sekolah di Kota Bogor. Waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan April 2009 sampai dengan Mei 2009.
Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang belum tersedia, sehingga untuk menjawab masalah penelitian, data harus diperoleh dari sumber aslinya. Data primer diperoleh dengan cara melakukan survei dan pengisian kuesioner oleh responden, dalam peneelitian ini adalah kepala sekolah maupun pihak yang dipercaya sebagai pengambil keputusan di sekolah tersebut. Sedangkan data sekunder adalah data yang sudah tersedia atau sudah dikumpulkan untuk suatu tujuan sebelumnya (Simamora, 2004). Data sekunder diperoleh melalui berbagai sumber, studi literatur, data yang berasal dari instansi pemerintah, buku-buku, artikel, sumber-sumber di internet, dan dari sumber-sumber terkait lainnya.

Sampel dan Populasi :

Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, menggunakan teknik pengambilan sampel secara probability. Metode yang digunakan adalah dengan membagi responden dalam beberapa kelompok (cluster) yaitu Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Setelah kelompok terbagi dan jumlah dari masing-masing kelompok diketahui maka langkah selanjutnya adalah dengan menentukan syarat-syarat bagi sekolah yang dijadikan responden (purposive sampling). Syarat-syarat yang telah ditentukan terlebih dahulu adalah kemudahan akses menuju lokasi responden berada, bersedia diwawancarai, dan responden yang berminat mengunjungi Wisata Kampung Cendawasari. Dengan menggunakan metode ini, peneliti memilih sampel dari populasi yang bersedia menjadi responden. 36 Responden yang dipilih adalah kepala sekolah sebagai pengambil keputusan tertinggi yang bersedia diwawancarai. Dasar dari jumlah sampel yang diambil mengacu pada perhitungan jumlah sampel dengan menggunakan jumlah sekolah (SD, SMP, dan SMA) yang berada di Kota Bogor.

Metode Analisis:

Melalui uji validitas, uji reabilitas, serta analisi distribusi deksriptif
                               
Sumber :
·         Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor